7 Larangan Istri terhadap Suami

Dalam suatu rumah tangga suami dan istri mempunyai hak dan kewajibannya masing-masing. Seorang istri wajib untuk tunduk dan patuh kepada suaminya yang menjadi pemimpin dalam keluarganya. Namun terkadang seorang istri tanpa sadar melakukan perbuatan berdosa yang merusak semua amal kebaikan yang pernah dilakukan. Dalam Islam ada beberapa sikap dan perbuatan yang dilarang dilakukan oleh seorang istri terhadap suaminya. Seorang istri yang sholehah akan senantiasa mencari ridho suaminya supaya terhindar dari murka dan laknat Allah SWT. dibawah ini akan membahas larangan istri kepada suami menurut  syariat Islam, antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Tidak menaati perintah dalam kebaikan 

Larangan Islam bagi istri kepada suami adalah tidak menaati perintah. Suatu contoh seorang suami memerintah istrinya untuk melaksanakan solat. Maka perintah tersebut harus segera istri laksanakan, karena hal itu tergolong perintah untuk kebaikan. Kecuali perintah yang melanggar aturan islam dan kesusilaan.

Dalam hadits riwayat Rasulullah bersabda :” Apabila seorang isteri telah mendirikan salat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki.”(HR Ahmad dan Thabrani)

  1. Menolak ajakan suami berhubungan intim

Rasulullah saw bersabda: “Apabila laki-laki mengajak istrinya ke tempat tidurnya kemudian ia menolak untuk datang lalu laki-laki itu tidur semalam dalam keadaan marah kepadanya, maka ia dilaknat oleh malaikat hingga subuh.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits tersebut dijelaskan seorang istri yang menolak ajakan suaminya berhubungan intim merupakan dosa. Kecuali istri dalam keadaan menstruasi atau haid.

  1. Tidak menjaga harta suami

Sebagai seorang istri tidak boleh mengkhianati kepercayaan suaminya dengan menghambur-hamburkan harta suami yang telah dia cari dengan bekerja keras, apalagi hingga digunakan untuk perbuatan maksiat. Maka dari itu seorang istri sepatutnya menjaga harta suaminya sehingga ia percaya kepada istrinya.

Sayidina Ali k.w.j. berkata: “Seburuk-buruk sifat bagi kaum laki laki itu adalah sebaik-baik sifat bagi kaum perempuan yaitu kikir dan bersikap keras dan takut. Karena sesungguhnya perempuan itu jika kikir, maka ia memelihara harta suaminya dan jika bersikap keras, maka ia menjaga diri dari berbicara kepada setiap orang dengan perkataan yang halus (mesra) yang menimbulkan sangkaan yang buruk, dan jika penakut. maka ia takut dari segala sesuatu, oleh karena itu ia tidak berani keluar dari rumahnya dan ia menjauhi tempat-tempat yang menimbulkan kecurigaan yang buruk karena takut kepada suaminya“.

  1. Keluar rumah tanpa izin suami

Seperti halnya yang telah dikatakan oleh Sayidina Ali k.w.j di poin 4. Maka seorang istri ketika bepergian harus ditemani oleh mahramnya yaitu suaminya.

  1. Meninta cerai tanpa alasan kepada suami

Rasulullah SAW bersabda : “Wanita mana saja yang meminta kepada suaminya untuk dicerai tanpa kondisi mendesak maka haram baginya bau surga”.(HR Abu Dawud, At-Turmudzi).

  1. Tidak bersyukur dengan pemberian suami

Rasullullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya”.

Seorang suami yang sudah menafkahi istrinya, walaupun tidak banyak namun istrinya tidak pernah bersyukur dan berterimakasih kepada suaminya maka durhakalah dia sebagai seorang istri kepada suaminya.

  1. Membangkang terhadap suami

Membangkang terhadap suami juga merupakan larangan istri. Sebagai istri yang solehah tidak akan pernah mengkang kepada suaminya. Ketika suami berbicara, istri akan mendengarkan dengan baik dan tidak memotong pembicaraan kepada suami. Jika ingin menyela minta persetujuan terlebih dahulu. Dengan komunikasi yang baik tidak akan membuat ketegangan sehingga terjadi perselisihan.

Demikian 7 larangan seorang istri terhadap suaminya menurut Ajaran Islam. sebaiknya pebuatan-perbuatan di atas tidak diterpakan dalam kehidupan sehari-hari yang menimbulkan kehancuran dalam rumah tangga.

Visi dan Misi manusia dalam kehidupan

Gambar Ilustrasi

Visi dan Misi merupakan dua hal yang sangat berkaitan. Visi merupakan rangkaian impian, harapan dan cita-cita yang ingin dicapai sedangkan Misi adalah tujuan utama berarti misi adalah suatu proses dimana tujuan utama tersebut harus dikerjakan untuk mecapai visi tersebut.  Kitab suci Al-Qur’an yang dijadikan pedoman kehidupan umat muslim telah menjelaskan visi dan misi manusia dalam menjalankan kehidupannya di dunia. Visi manusia sebagai seorang muslim adalah selalu berada di jalan Allah SWT dan menjadi orang yang baik dan beriman, bertakwa kepada Allah. Berlomba-lomba mendapatkan pahala untuk dijadikan bekal amal perbuatan selama hidup agar mendapatkan kebahagiaan di akhirat nanti.

Semua visi dan misi seorang muslim terdapat pada beberapa ayat dalam Al-quran. Diantaranya ayat yang menjelaskan visi tersebut adalah surat Al-Baqarah ayat 201 yang artinya : “Dan di antara mereka ada yang berdo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan (kebahagian) di dunia dan kebahagian di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” .

Adapaun ayat yang menjelaskan misi seorang muslim adalah surat Az-Zariyat ayat 56 yang artinya : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. Dalam ayat tersebut  sudah sangat jelas bahwasanya kita sebagai makhluk Allah SWT yang telah diciptakanNya supaya menyembah hanya kepada Allah. Beribadah kepada Allah secara tulus tanpa paksaan. Banyak sekali jenis untuk beribadah seperti yang disebutkan dalam Rukun Islam diantaranya adalah salat, puasa, zakat dan menjalankan haji bagi yang mampu. Ibadah yang paling wajib dan selalu kita kerjakan setiap harinya adalah salat. Salat merupakan ibadah pertama yang akan dihisab di akhirat. Maka dari itu hendaknya seorang muslim tidak meninggalkan salat 5 waktu.

Ayat kedua yang menjelaskan misi seorang muslim adalah surat Al-Baqarah ayat 30 yang artinya : “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”. Mereka berkata “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan daraj disana, sedangkan kami bertasbih memujiMu dan menyucikan namaMu?” Dia berfirman, “Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Dalam ayat tersebut  dijelaskan Allah menciptakan manusia untuk dijadikan khalifah di bumi sebagai wakil Allah SWT . tujuannya untuk menggantikan rasulullah yang telah wafat dalam mengelola segala sesuatu yang ada di bumi dan kemakmuran di dalamnya. Maka kita sebagai manusia yang hanya menumpang harusnya selalu bersyukur kepada Allah. Tidak hanya itu kita harus merawat dan melestarikan bumi beserta isinya.

Ayat selanjutnya pada surat AL Mu’minun ayat 115 yang artinya : “Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? ”. ayat tersebut menjelaskan Allah menciptkakan manusia tidak hanya sekedar membuatnya, melainkan semata-mata sebagai hamba Allah yang senantiasa menyembah hanya kepada Allah SWT. Berlomba-lomba berbuat kebaikan sesuai syariat Islam untuk dijadikan bekal amal perbuatan di akhirat nantinya. Karena pada dasarnya kita akan kembali kepadaNya, Sang Pencipta  yang tak lain adalah Allah, Tuhan yang Maha Esa. Hanya kepadaNya kita berdoa dan bersujud karena tiada Tuhan selain Allah SWT.

Demikian visi dan misi manusia dalam kehidupan di dunia sesuai dengan ayat-ayat yang terdapat dalam surat-surat dalam Al-qur’an. Penjelasan ayat-ayat diatas hanyalah sebagian ayat yang menyatakan visi dan misi manusia. Semoaga kita sebagai umat muslim yang beriman senantiasa selalu dijalan Allah dalam menjalankan visi dan misi Allah dengan bersungguh-sungguh.

9 Nama-nama Wali Songo

Wali Songo merupakan sebutan yang tidak asing lagi bagi masyarat muslim Indonesia, terutama masyarakat muslim yang berada di pulan Jawa. Wali songo dalam bahasa Jawa artinya sembilang wali. Wali Songo adalah sembilan wali atau biasa disebut dengan sunan yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa pada abad ke 14. Para wali menyebarkan agam islam dengan cara berdakwah untuk mengajak masyarakat masuk agama Islam tanpa paksaan yang tersebar diseluruh Nusantara. Wali Songo juga meninggalkan bukti kepada perannya dalam menyebarkan agama Islam di wilayahnya masing-masing. Sembilan wali Allah tersebut akan disebutkan dan dijelaskan dibawah ini. Diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Sunan Gresik

                                Sunan Gresik

Sunan Gresik memiliki nama asli Syekh Maulana Malik Ibrahim. Dalam penyebaran agam Islam beliau merupakan orang pertama yang masuk ke pulau jawa. Sunan Gresik diperkirakan lahir di Samarkand Asia Tengah pada paruh awal abad ke 14. Beliau menyiarkan agama Islam di bagian timur pulau Jawa. Beliau mendirikan masjid di Desa Pasucinan Manyar.

  1. Sunan Ampel

                                   Sunan Ampel

Sunan Ampel memiliki nama asli Raden Rahmat. Beliau lahir di Champa tahun 1401 Masehi. Julukannya adalah Sayyid Ahmad Rahmatillah. Beliau mendirikan masjid Agung Demak untuk sarana berdakwah tahun 1479.

  1. Sunan Bonang

                          Sunan Bonang

Sunan Bonang mempunyai nama Asli Raden Makhdum Ibrahim. Beliau merupakan putra dari Sunan Ampel dan istrinya yang bernama Nyai Ageng Manila. Setelah ayahnya meninggal dunia beliau belajar agama di Malaka. Setalah itu beliau kembal ke Tuban dan mendirikan pondok pesantren.

  1. Sunan Drajat

                         Sunan Drajat

Sunan Drajat memiliki nama asli Raden Qasim yang aritnya Satu yang terbaik. Beliau merupakan saudara Sunan Bonang yang tak lain merupakan putra dari Sunan Ampel. Dari ayahnya beliau berdakwah ke pesisir Gresik dan mendirian Padepokan Santri Dalem Duwur.

  1. Sunan Kudus

                             Sunan Kudus

Sunan Kudus memiliki nama asli Sayyid Ja’far Shadiq Azmatkhan. Beliau berasal dari Al-Quds Yerussalem Palestina. Cara dia mendekatkan diri pada masyarakt dengan memanfaatkan simbol Hindu-Buddha, seperti yang nampak pada arsitektur Masjid Kudus.

  1. Sunan Giri

                            Sunan Giri

Sunan Giri memiliki nama asli Raden Ainul Yaqin. Beliau merupakan putra dari Maulana Ishaq dan Dewi Sekardadu yang merupakan putri dari Prabu Menak Sembuyu Raja Blambangan. Beliau mendirikan pondok pesantren Giri. Pesantrennya dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama di Pulau Jawa.

  1. Sunan Kalijaga

                          Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga memiliki nama asli Raden Said. Beliau merupakan putra dari Bupati Tuban yaitu Raden Sahur. Beliau lahir tahun 1450 di Tuban, lalu meninggal dunia pada tahun 1550 di Demak. Pemahaman agama berbasis salaf yaitu kesenian dan kebudayaan merupaka metode yang beliau gunakan ketika berdakwah.

  1. Sunan Muria

                            Sunan Muria

Sunan Muria mempunyai nama asli Raden Umar said. Beliau merupakan putra dari Sunan Kalijaga. Sunan muria menggunakan metode yang sama dengan ayahnya. Tujuan dan pusat dakwahnya adalah Gunung Muria. Saat berdakwah tempat yang beliau datangi adalah daerah terpencil di pesisir pantai dan pegunungan.

  1. Sunan Gunung Jati

                     Sunan Gunung Jati

Wali Songo yang terakhir adalah Sunan Gunung Jati memiliki nama asli Syarif Hidayatullah Al-Khan. Beliau merupakan keturunan keraton Pajajaran melalu Nyai Rara Santang. Cirebon merupakan kota yang beliau jadikan pusat dakwah dan pemerintahannya. Dalam berdakwah beliau cenderung mengikuti gaya Timut Tengah yang lugas serta mendekati masyarakat dengan membangun infrastruktur berupa jalan.

Demikian sedikit pembahasan tentang 9 wali Songo yang perlu kita ketahui. Cara para wali memilih tempat penyebaran islam bukan tanpa sebab melainkan memang sudah diperhitungkan. Karena melihat Pulau Jawa sebagai pusat dengan kegiatan ekonomi, polotik, dan kebudaaan.

 

Tujuan Menikah Menurut Islam

 

Dalam Islam, menikah disebut sebagai amalan yang menyempurnakan separuh agama. Dengan melakukan pernikahan seseorang akan mendapatkan mafaat dalam kehidupannya terutama dalam melindungi mertabat manusia. Hal ini juga dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan menikah ia dapat melindungi dirinya dari dosa kemaksiatan. Laki-laki dan perempuan yang saling mencintai berharap dapat dipersatukan ke jenjang pernikahan. Tujuan menikah bukan hanya sekedar melaksanakan sunnah rasul, ada beberapa tujuan dari melakukan  pernikahan di dalam Syariat Islam. Dibawah ini akan diulas tujuan menikah diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Melakasanakan sunah rasul

Tujuan utama menikah adalah untuk melaksanakan sunah rasul. Sebagai seorang musim yang beriman kita mempunyai panutan dan teladan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari yaitu Nabi Muhammad SAW.  Dengan menikah berarti kita sudah menjalankan sunnah Rasulullah.

  1. Menjaga diri dari perbuatan maksiat

Tujuan menikah selanjutnya adalah menajaga diri dari perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT yaitu kemaksiatan. Jaman sekarang anak muda menjalin hubungan dengan berpacaran, padahal berpacaran dapat menimbulkan nafsu antara keduanya.

  1. Mendapatkan keturunan

Selanjutnya tujuan menikah adalah mendapatkan keturunan. Dijelaskan dalam Al-Qur’an pada surat An-Nahl ayat 72 yang artinya : “Allah menjadikan kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki yang baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?”.

Dengan menikah berarti sudah melestarikan dan memperluas garis keturunan putra-putra Nabi Adam AS. Dalam pernikahan bukan sekedar untuk mendapatkan anak, tetapi untuk mendidik anak agar menjadi anak yang sholeh dan sholehah, berakhlak dan selalu menjalankan perintah Allah SWT.

  1. Membangun generasi yang beriman

Dengan Islam, membangun rumah tangga berarti membangun generasi muslim yang beriman supaya tidak terjadi kepunahan. Hal ini pun dijelaskan dalam surat Al-Thur ayat 21 yang artinya :

Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”.

  1. Mendapatkan kenyamanan

Tidak hanya karena sunnah rasul orang-orang melakukan pernikahan. Tujuan menikah juga untuk diri senditi yaitu mendapatkan kenyamanan dan kedamaian di dunia. Hal ini pun dijelaskan dalam Al-Qur’an pada surat Ar-Rum ayat 21 yang artinya : “Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”.

  1. Menjadi pasangan yang bertakwa

Tujuan menikah dalam Islam adalah menjadi pasangan yang bertakwa. Dengan menikah mampu menjadikan insan bertakqa yang akan memperjuangkan nilai-nilai kebaikan bersama. Dengan menikah akan mendapatkan keturunan yan dan menciptakan ketenangan lahir dan batin. Doa untuk menggambarkan setiap pasangan ingin memiliki keluarga yang diharapkan ada pada surat Al-Furqon ayat 74 yang artinya : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”.

Demikian beberapa tujuan untuk melaksanakan ibadah menikah. Selain itu dengan cara menikah seseorang dapat meminta pertolongan kepada keturunannya yaitu kepada anaknya. Pasalnya seorang anak yang soleh dapat memberikan syafaat untuk orang tuanya yang sudah meininggal.

 

10 Perintah Allah SWT Dalam Al-Qur’an

Kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril digunakan sebagai pedoman hidup. Dalam Al-Qur’an berisikan larangan dan perintah Allah untuk kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Pada bacaan kali ini akan dibahas tentang 10 perintah-perintah Allah Dalam Al-Qur’an, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Beriman kepada Allah SWT

Sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT diwajibkan untuk selalu beriman kepada Allah SWT. Salah satunya dengan cara percaya dengan 6 hal yang disebutkan dalam rukun Iman. Diantaranya adalah iman kepada Allah SWT, malaikat Allah, kitab Allah, Nabi dan Rasul, hari kiamat serta iman kepada Qada dan Qadar. Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menyebutkan hal itu, salah satunya adalah pada surat Al-Baqarah ayat 163 yang artinya : “Dan Tuhan itu, Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia. Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang”.

  1. Mendirikan salat

Sebagai umat muslim wajib hukumnya untuk mengerjakan salat 5 waktu. Perintah salat dalam Al-Qur’an terdapat pada surat Al-Baqarah ayat 45 yang artinya : “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”.

  1. Berbagi dan bersedekah

Untuk seorang muslim yang dikatagorikan mampu wajib untuk berbagi sebagian rizki kepada orang-orang yang membutuhkan. Seperti yang telah disebutkan pada surat Al-Baqarah ayat 3 yang artinya : “Adapun orang-orang yang beriman dengan yang ghaib dan mendirikan sembahyang dan menginfakkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka”.

  1. Mengimani Al-Qur-an dan kitab-kitabNya

Seseorang yang beriman akan percaya bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitabnya kepada para utusannya yaitu Nabi dan Rasul.

surat An-Nisa ayat 136 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya”.

  1. Percaya akan adanya (kehidupan) di akhirat

Iman kepada hari akhir atau hari kiamat merupakan rukun iman yang kelima. Oleh karena itu umat muslim wajib percaya akan adanya kehidupan di akhirat yang selanjutnya manusia dimintai pertanggung jawaban selama hidupnya di Dunia.

Surat Al-Anbiya ayat 47 yang artinya : “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan”.

  1. Bersyukur kepada Allah

sebagai makhluk Allah yang dijadikan khalifah di bumi, kita diwajibkan untuk senantiasa mengucap syukur kepada Sang Pencipta yaitu Allah SWT.

Surat Ibrahim ayat 7 yang artinya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

  1. Meminta kepada Allah SWT

Setiap orang yang beriman hanya kepada Allah akan selalu meminta pertolongan kepada Tuhan yang Maha Esa yaitu Allah.

Surat Al-Fatihah ayat 5 yang artinya : “Hanya kepada Engkau-lah kami menyembah dan hanya Engkau-lah kami mohon pertolongan”.

  1. Memakan makanan halal

Perintah Allah selanjutnya adalah untuk selalu menjaga makanan yang dikonsumsi, yaitu memakan makanan halal, karena dengan mengikuti perintah Allah akan mendapat pengaruh positif bagi manusia dan baik untuk tubuh kita.

Surat Al-Baqarah ayat 168 yang artinya : “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.

  1. Menepati Janjinya

Umat islam wajib memelihara amanat dan tidak merusak janji Allah. Seperti yang disebutkan dalam surat An-Nahl ayat 91 yang artinya : “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat”.

  1. Berpuasa

Surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Sebagai orang yang beriman kita diwajibkan berpuasa selama sebulan pada bulan ramadhan.

Demikian 10 perintah-perintah Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an.Namun sebenernya tidak hanya 10 saja perintah Allah, tetapi banyak perintah lainnya yang bisa menjadikan kita senantiasa berada di jalan Allh SWT.

Tugas Malaikat Munkar dan Nakir

 

Malaikat merupakan makhluk Allah SWT yang sangat taat kepada-Nya. Salah satu malaikat Allah SWT yang wajib kita ketahui dan yakini adalah Malaikat Munkar dan Nakir. Malaikat Munkar dan Nakir bertugas memberikan pertanyaan selama hidupnya di alam kubur. Sebagai seorang muslim wajib hukumnya mengimani bahwa nanti di Alam Kubur ada beberapa pertanyaan dari dua malaikat Munkar dan Nakir. Manusia adalah makhluk Allah SWT yang terbuat dari suatu saripati tanah. Setelah meninggal setiap manusia akan kembali ke tempat asalnya, artinya setiap orang akan dikuburkan ke dalam tanah dan berada di alam yang akan menjadi penghubung antara dunia dan akhirat, yaitu Alam kubur atau alam Barzakh.

Setelah meninggal, setiap manusia akan bertemu dengan malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur. malaikat Munkar dan Nakir akan memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang ketuhanan, kenabian dan beberapa hal penting lainnya kepada setiap manusia yang sudah meninggal. Kedua malaikat tersebut akan menyakan beberapa pertanyaan, yaitu “ man rabbuka? (siapakah tuhan mu?)”, “ Man nabiyyuka? (siapakah nabimu ?)”, “Ma dinuka? (apa agama mu?)”, jawaban dari pertanyaan tersebut adalah Tuhanku adalah Allah SWT, nabiku adalah Muhammad SAW dan agamaku adalah Islam. Jika si mayit bisa menjawab tiga pertanyaan pokok malaikat Munkar dan Nakir maka diberikan keluasan dan keterangan di Alam Barzakh sampai hari Kebangkitan. Namun, jika si mayit tidak bisa menjawab pertanyaan mereka akan disiksa dalam kubur sampai hari Kebangkitan. Saat menjawab pertanyaan dari kedua malaikat tersebut tidak semudah yang kita bayangkan. Bahwasanya setiap ruh akan menjawab sesuai bekal amal ibadah dan keimanan selama hidupnya tidak menuruti ucapan ego si mayit. Selain itu setan-setan akan senantiasa mengganggu setiap ruh ketika akan menjawab pertanyaan. Ada pendapat mengatakan bahwa malaikat Munkar dan Nakir akan memberi pertanyaan menggunakan bahasa arab. Menurut hadist Rasulullah SAW yang menyebutkan “ cintailah Arab karena tiga hal, pertama karena aku orang arab, Al-Qur’an bahasa arab, dan penduduk surga menggunakan bahasa arab”. Sedangkan menurut Syekh M Nawawi Al-Bantani dalam Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam mengatakan bahwa kedua malaikat yang bertugas di alam kubur itu akan menggunakan bahasa yang digunakan sehari-hari oleh ahli kubur tersebut seketika hidup di alam dunia.

ويسألان كل إنسان بلغته ويقولان له من ربك وما دينك ومن نبيك وما قبلتك ومن إخوتك وما إمامك وما منهاجك وما عملك

artinya: “Keduanya (malaikat Munkar dan Nakir) bertanya kepada setiap ahli kubur dengan bahasa yang bersangkutan. Keduanya bertanya, “Siapa tuhanmu?, Apa agamamu?, Siapa nabimu?, Apa kiblatmu?, Siapa saudaramu?, Apa imammu?, Apa jalan hidupmu?, Apa amalmu?”.

Namun konon katanya Malaikat Munkar dan Nakir tidak hanya memberikan tiga pertanyaan diatas yang sudah disebutkan tadi. Tiga pertanyaan tersebut adalah pertanyaan pokok malaikat dalam pendapat lain mengatakan tiga pertanyaan tersebut diikuti dengan pertanyaan lainnya, yaitu “Ma kitabuka ?(apa kitab mu?)”, “Aina qiblatuka? (Dimana kiblat mu ?)”, “Man ikhwanuka ?(siapa saudara mu?)”. jawaban dari pertanyaan di atas adalah Al-Qur’an adalah kitabku, Ka’bah adalah kiblatku dan orang-orang mukmin adalah saudaraku. Pendapat mengatakan bahwa pertayaan tersebut adalah bocoran dari Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadistnya, walaupum Rasulullah SAW sudah membocorkan beberapa pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir tidak semua manusia bisa menjawabnya dengan mudah.

Hikmah beriman kepada kitab-kitab Allah SWT

 

Beriman kepada kitab-kitab Allah SWT merupakan rukun iman yang ketiga dari 6 hal dalam rukun Iman. Iman kepada kitab-kitab Allah artinya mempercayai dan meyakini bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab-kitabNya kepada RasulNya yang berisi larangan, perintah, janji dan ancamanNya. Dalam Al-Qur’an sudah dijelaskan pada surat An Nisa ayat 136 yang artinya :

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya”.

Kitab-kitab tersebut diturunkan sebagai pedoman hidup bagi manusia di dalam kehidupannya. Ada 4 kitab yang diturunkan oleh Allah yang pertama kitab Taurat kepada Nabi Musa as, kitab Zabur kepada Nabi Daud as, kitab Injil kepada Nabi Isa as, Dan yang terakhir kitab Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an sendiri merupakan kitab suci bagi umat Islam sebagai pedoman hidup. Allah SWT menicptakan kitab-kitab dan menurunkannya kepada para RasulNya bukan tanpa sebab, adapun hikmah beriman kepada kitab-kitab Allah. Dibawah ini akan diulas beberapa hikmah yang terkandung didalamnya, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Semakin memperkuat keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT yang telah menurunkan kitab-kitab kepada para rasul-Nya
  2. Memberikan petunjuk kepada manusia mana yang benar dan yang salah sehingga kehidupan manusia menjadi tertata dan teratur karena adanya larangan yang bersumber dari kitab suci.
  3. Sebagai pedoman hidup dalam menjalankan perintah dan manjauhi Larangan Allah SWT agar senantiasa selalu berada di jalan yang lurus (jalan yang Allah ridoi).
  4. Menumbuhkan sikap optimis dan semakin termotivasi untuk menjalan perintah Allah supaya mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan di akhirat nanti, karena Allah SWT menjajikan kebahagiaan berupa surga, bidadari, ketenangan jiwa dan lainnya kepada umat Islam yang beriman kepada kitab-kitab Allah SWT. seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an pada surat Al-baqarah ayat 25 yang artinya “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik,bahwa bagi mereka disediakan surga-surga”.
  5. Semakin bersemangat untuk menjauhi larangan-larangan Allah karena di dalam kitab-kitab Allah ada ancaman-ancaman berupa neraka, adzab, kesedihan dan lainnya.
  6. Di akhirat nanti akan mendapatkan (Syafa’at) pertolongan dari Allah SWT.
  7. Manusia dapat mengetahui betapa besarnya perhatian dan kasih sayang Allah SWT kepada para hamba dan makhlukNya.
  8. Selalu bersyukur atas segala anugerah dan nikmat Allah SWT, karena Allah SWT telah memberikan petunjuk yang benar melalui kitab-kitabnya.
  9. Dapat meningkatkan toleransi karena di dalam kitab-kitab Allah SWT memberikan penjelasan tentang toleransi, saling menghormati dan menghargai sesama manusia. Baik sesama muslim ataupun nonmuslim.
  10. Kita bisa mendapatkan informasi sejarah kehidupan orang-orang terdahulu. Dengan begitu hal itu bisa dijadikan pelajaran hidup bagi umat manusia selanjutnya.

Orang-orang yang beriman akan mengimani adanya kitab-kitab Allah. Terutama sebagai umat muslim akan senantiasa meyakini bahwa Al-Qur’an telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malakaikat Jibril oleh Allah SWT. Salah satu contoh sikap dan perilaku kita sebagai umat musllim yang menceriminkan beriman kepada kitab Allah SWT dalam kehidupan sehari adalah selalu membaca Al-Qur’an (tadarus) setelah melaksanakan shalat wajib atau saat waktu luang.

Hikmah Beriman Kepada Qada dan Qadar

Beriman kepada Qada dan Qadar merupakan rukun iman yang keenam dari 6 hal. Maksud dari iman kepada Qada dan Qadar adalah mempercayai dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah telah menetapkan dan memutuskan terhadap setiap makhlukNya atas kehendaknya. Dalam Al-qur’an ketetapan qada dan qadar dijelaskan dalam surat  Al Furqon ayat 2 yang artinya :

Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya”.

Seorang muslim yang memiliki keimanan pada qada dan qadar akan mendapatkan banyak hikmah, ulasan dibawah ini akan menyebutkan hikmak beriman kepada qada dan qadar antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Termasuk orang yang beriman

Setiap orang muslim yang beriman akan percaya dan yakin atas ketetapan dan keputusan Allah SWT. tentunya untuk masuk ke dalam golongan orang yang beriman harus memiliki rasa iman kepada qada dan qadar.

  1. Banyak-banyak bersyukur

Seseorang yang beriman kepada qada dan qadar akan lebih banyak bersyukur. Selalu mensyukuri segala sesuatu di kehidupannya dan menerima bahwa segalanya diberikan oleh Allah SWT kepada kita sesuai dengan takaran masing-masing orang. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 53 yang artinya :

Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan”.

  1. Selalu sabar

Dengan beriman kepada qada dan qadar kita akan meingkatkan kesabaran. Seseorang yang beriman kepada qada dan qadar akan sadar dengan ketetapan yang telah Allah SWT berikan. Seperti yang sudah dijelaskan dalam AL-Qur’an pada surat Asy-Syura ayat 33 yang artinya :

Dan, di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jikalau Dia menghendaki, Dia akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan) -Nya bagi setiap orang yang bersabar dan banyak bersyukur”.

  1. Menjadi pribadi yang tenang

Seseorang akan merasa jiwanya menjadi lebih tenang adalah salah satu hikmah beriman kepada qada dan qadar. Kehidupannya akan jauh dari kesusahan, meskipun ia diberi cobaan yang sulit namun karena ia yakin pada takdir Allah SWT akan membuatnya selalu merasa lebih tenang.

Diperjelas pada Surat Ar-Ra’du ayat 28 yang artinya :

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” .

  1. Terhindar dari sifat sombong

Siapapun yang beriman kepada qada dan qadar akan terhindar dari sifat sombong dan angkuh. Karena orang tersebut percaya segala sesuatu yang dialaminya semua karena ketetapan Allah SWT. Dijelaskan dalam Al-quran surat Luqman ayat 18 yang artinya :

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

  1. Selalu optimis dan tawaqal kepada Allah

Setiap seseorang yang beriman kepada Allah akan selalu berusaha optimis dan bertawaqal kepada Allah. Golongan orang tersebut akan selalu menerima setiap keputusan dari Allah SWT.

Dalam surat AL-maidah Ayat 23 yang artinya : “Dan hanya kepada Allah-lah kalian betawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman”.

Demikian, beberapa hikmah yang akan didapatkan oleh seorang muslim yang beriman kepada Qada dan Qadar. Qada dan Qadar merupakan rukun iman dan hal itu adalah salah satu benuk ketaqwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa yaitu Allah SWT.